Oleh M. Nasrullah Akbar (Kasubbag Hukum & SDM) Konon, dahulu kala ada tukang kayu dari Nazaret. Dia tidak hanya merancang, tetapi juga menciptakan berbagai perabot yang indah dan bermanfaat. Dalam menjalani profesinya, ia paham betul arti kerja keras dan ketekunan. Sehingga orang-orang di sekitarnya pun segan kepadanya. Ia disegani bukan karena pangkat, jabatan, ataupun kekuasaannya. Melainkan karena kebijaksanan, ketulusan, dan sikapnya yang total dalam melayani. Semua dilakukan atas dasar cinta pada pekerjaannya. Lalu, sebagai manusia biasa, sanggupkah kita meniru keistimewaan Isa si tukang kayu dari Nazaret?. Jauh sebelum bicara tentang cinta, seringkali kita dihadapkan pada kesulitan-kesulitan hidup yang membuat terseok-seok. Seperti truk kelebihan muatan yang setiap saat dibayangi celaka di jalanan. Masalah kita tidak istimewa. Di luar sana tentu banyak laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga. Tidak sedikit pula, para ibu dan perempuan dengan setia mempersembahkan dirinya agar bisa bertahan dalam dunia yang morat-morit dan sering tak berpihak pada mereka. Bon Jovi memotret para pasangan pekerja dengan lagunya "Livin' On A Prayer". Dengan piawai ia menjadi pendongeng mengisahkan pasangan suami istri, Tommy dan Gina. Tommy, pekerja galangan yang baru saja dipecat. Sedangkan Gina, pelayan di kedai yang bekerja untuk menghidupi mereka berdua. Ketika keadaan memburuk, mereka terus berusaha untuk saling mendukung. Saat Tommy sedang kalut, Gina berusaha menguatkannya dan berkata: “We’ve gotta hold on to what we’ve got. It doesn’t make a difference if we make it or not. We’ve got each other and that’s a lot. For love we’ll give it a shot.” Sebaliknya, saat malam hari datang, Gina menangis dan merasa bahwa hidup yang dijalaninya sangat berat. Tommy berusaha membuatnya tenang. Meyakinkannya bahwa suatu saat, entah kapan, mereka pasti berhasil. Sembari berusaha terus menjalani hidup bersama harapan dan doa. "Woah, we’re half way there Woah, livin’ on a prayer Take my hand, we’ll make it I swear Woah, livin’ on a prayer" Dalam terminologi agama, ia dinamakan doa. Doa yang sesungguhnya adalah gerak dan upaya. Bukan yang malas, bukan gemar berkhayal, tetapi berbuat untuk kesejahteraan yang menyejahterakan dan dikuatkan oleh harapan. Silahkan kalau ini dianggap sebagai klise atau hanya bualan belaka. Namun, tidak ada salahnya jika disimpan dalam kepala atau ditulis yang besar pada dinding kamar. Sebagai bekal nanti untuk menghadapi hari-hari yang sulit maupun sebagai penyemangat untuk memulai hari-hari yang malas. Dalam lagunya yang lain, "Born To Be My Baby", Bon Jovi membuka dengan lirik yang menggambarkan beratnya kehidupan pasangan-pasangan pekerja. "Rainy day and we worked all day. We both goy jobs cause theres bills to pay. We’ve got something they cant take away. Our love, our lives" Tak bermaksud meromantisasi kisah pasangan pekerja, tapi tak ada hal lain yang membuat kita terus bertahan selain harapan dan doa seperti yang dikatakan Tommy. Semoga kita selalu punya cinta yang saling menopang dan menguatkan. Pak ustadz berteriak "Allahumma" para hadirin serempak meneruskan "Amiinn". Memang, tak mudah menjalani kehidupan yang penuh benturan. Memang, tak mudah mencapai kehidupan yang indah dan ideal dengan kepalan tangan penuh semangat. Lebih mudah kalau kita menurunkan standar ideal dan membiasakan diri menerima apa saja yang tidak sempurna. Tidak pernah ada dunia yang ideal. Hidup sebenarnya hanya perkara kesiapan menerima benturan-benturan. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang lentur dan membal. "Allahumma" "amiin". Bagi sebagian orang, hal itu dicap terlalu buruk karena dianggap malas memperbaiki keadaan. Tetapi, kita bisa melihat sisi lainnya. Menurunkan standar ideal diartikan belajar membiasakan diri menerima hidup dengan hal-hal yang kurang sempurna. Selanjutnya, menoleransi hal-hal yang kurang sempurna tersebut dan tidak keberatan menjalaninya. Hidup terasa lebih indah kalau dijalani dengan sikap pesimis. Karena optimis hanya akan membuat orang tidak siap menerima kekecewaan. Sejatinya mereka hanya tidak sanggup mengalihkan fokus dari mala. Pesimisme itu bukan berarti kita membayangkan masa depan serba gelap. Justru pesimisme membuat kita lebih siap ketika yang ideal tidak terwujud. Misalnya sedang lapar, "Oke, saya nanti makan nasi rawon", sambil membayangkan kalau tidak ada juga tidak masalah, asal ada makanan. Sebagaimana orang bijak pernah berkata "Pessimism is the cure for anger". Tidak perlu menunggu optimis. Matahari hanya punya kesetiaan dalam menjalankan tugasnya untuk terbit setiap pagi. Sebab, matahari tahu kalau dia tidak menjalani kewajibannya, dunia akan kiamat. Kita juga seperti itu. Hanya butuh kesetiaan menjalani proses menuntaskan kerja agar hidup tidak kiamat. Jauh lebih penting dari tulisan jelek ini atau bahkan jelek saja belum. Untuk semua pekerja yang sedang membawa neraka kecil di pundak, saya hanya ingin menyampaikan kalimat favorit Ernest Hemingway yang selalu ditulis pada setiap akhir surat-suratnya :"il faut d’abord durer" (di atas segalanya, orang mesti bertahan).